Mengenal Alexander Noel Constantine Pejuang Indonesia Asal Australia

Alexander Noel Constantine

Nama-nama seperti Adisucipto, Addurrahman Saleh dan Adisumarmo Wirjokusumo sangant dikenal sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, dan pengabdian para satria ini sangat patut dilestarikan pula.  Tetapi ada juga sebuah nama dari seorang pilot pemberani—yakni Alexander Noel Constantine—yang menariknya hampir tidak dikenal di bumi Indonesia ini.

Namun, mantan pilot pesawat tempur pada Perang Dunia II juga memiliki kehormatan menjadi Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia yang pertama berkebangsaan Australia. 

Alexander Noel Constatine lahir pada tanggal 13 Desember 1914 di Moama, New South Wales, Australia.  Ia bergabung dengan RAF (Royal Air Force) pada bulan 1938. Saat terjadi Perang Dunia ke-2, ia ditugaskan ke Inggris sebagai pilot pesawat tempur menerbangkan pesawat tempur pemburu malam Douglas A-20 Havoc dan Boulton Paul Defiant serta pesawat pemburu Hawker Hurricane pada perang ‘The Battle of Britain’.

Ia pernah memimpin Skadron 237 di Ceylon (Srilanka ) dari bulan April 1942 – Juni 1943 dengan tugas pokok untuk mempertahankan pelabuhan setempat.  Constantine kemudian menjabat sebagai komando Skadron 136 di Baigachi, India. Dalam penugasaan tersebut, ia tercatat telah berhasil menembak jatuh pesawat tempur Jepang dan merusak beberapa pesawat lainnya. Keberhasilannya menembak jatuh enam pesawat tempur, termasuk Mitsubishi A6M-3 Zero buatan Jepang selama Perang Dunia Dua, menjadikan Constatine layak diberi gelar pilot “Ace”.

Bulan April 1944, Constantine dipromosikan menjadi Wing Commander yaitu setara dengan Letnan Kolonel. Ia pun dibebaskan dari tugasnya sebagai anggota RAF pada bulan Desember 1946 dan kemudian kembali ke Australia sebagai veteran sekaligus purnawirawan.  Constantine akhirnya menjadi semacam pilot swasta di wilayah Hindia Belanda (Indonesia).

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada dini hari 29 Juli 1949, tiga pilot AURI, Muljono (menerbangkan Mitsubishi KI-51 fighter), Sutarjo Sigit dan Suharnoko Harbani (keduanya menerbangkan pesawat pelatihan Yokosuka K5Y1), meluncurkan serangan ke Landasan Maguwo, dekat Yogyakarta, menjatuhkan serangan bom tepat pada posisi militer Belanda di Semarang, Ambarawa dan Salatiga. 

Pada hari yang sama, pesawat pengangkut Dakota C-47 Nomor Ekor VT CLA  pulang ke Indonesia untuk menjalankan misi kemanusiaan di Malaya.  Pesawat yang merupakan bantuan dari seorang pengusaha India bernama Bijayananda Patnaik untuk rakyat Indonesia tersebut mengangkut obat-obatan bantuan dari Palang Merah Malaya untuk Indonesia.  Penerbang pesawat misi kemanusiaan tersebut tak lain tak bukan adalah Alexander Noel Constantine. Dalam pesawat tersebut terdapat tiga anggota awak Angkatan Udara Indonesia: Kolonel Udara Adisucipto, Kolonel Udara Abdurrahman Saleh, operator radio Lettu Adisumarmo Wirjokusumo dan seorang penumpang bernama Abdul Gani Handonotjokro. Terdapat juga awak dan penumpang lain; co-pilot berkebangsaan Inggris mantan perwira RAF Roy Hazelhurst, insinyur penerbang dari India Bidha Ram, konsul Indonesia untuk Malaya Zainal Arifin termasuk istri Constantine, Beryl.

Ketika pesawat Dakota tersebut hendak mendarat di Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta secara tiba-tiba muncul dua pesawat pemburu Kitty Hawk milik Angkatan Udara Belanda. Pesawat tersebut mempunyai misi untuk membalas dendam atas aksi serangan AURI awal hari tersebut. Dakota diserang dengan senapan mesin oleh pesawat Belanda dan menyebabkannya hilang kendali. Pilot Alexander Noel Constantine mencoba untuk melakukan pendaratan darurat, namun gagal. Pesawat jatuh dan terbakar di Desa Ngoto, sebelah barat Maguwo. Peristiwa tersebut menewaskan hampir seluruh awak pesawat dan penumpang, hanya Abdul Gani Handonotjokro yang berhasil selamat. 

Jenazah Alexander Constantine, istrinya, Roy Hazelhurst dan Bidha Ram dikuburkan di sebuah tempat yang dulu dikenal sebagai Kerkop (kerkhof) di Yogyakarta.  Lokasi makam berada di pusat kota, di sisi timur Gapura Buntet (Plengkung Madyasura). Dulu makam ini mempunyai nama Candi Laya, kemudian diganti menjadi makam Sasanalaya.

Alexander Noel Constantine gugur dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian ia bukan hanya pahlawan perang Australia, namun juga diakui sebagai pahlawan kemerdekaan  Indonesia.


Sisa-sisa puing pesawat Dakota VT-CLA yang disimpan di Museum Ngoto